Link Aksi Nyata Budaya Positif dalam Webinar (group sharing) ;
https://drive.google.com/drive/folders/1Nh_548kMzUV-9zcl4Mv0zzVwpFkSF7et?usp=sharing
1.4.a.10.1 Aksi Nyata - Budaya Positif - Unggah Aksi Nyata
Webinar (group sharing) dalam rangka implementasikan
konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif di lingkungan kelas dan sekolah
Konsep-konsep Budaya Positif
1.
Perubahan Paradigma-Stimulus Respon lawan Teori Kontrol
2.
Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia
3.
Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan
4.
Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia
5.
Lima (5) Posisi Kontrol
6.
Segitiga Restitusi
1.
Perubahan Paradigma-Stimulus Respon lawan Teori Kontrol
Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu
menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu
berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung
jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin
yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita. Pembahasan disiplin kali
ini akan meninjau teori yang dikemukakan oleh Diane Gossen. Sebelum kita gali
lebih lanjut tentang teori Disiplin Restitusi dari Diane Gossen, mari
menyamakan model berpikir kita tentang disiplin itu sendiri. Lazimnya disiplin
dikaitkan dengan kontrol. Dalam hal ini kontrol guru dalam menghadapi murid.
Di bawah ini adalah paparan Dr. William Glasser dalam Control Theory, untuk
meluruskan berapa miskonsepsi tentang kontrol:
Ilusi guru mengontrol murid.
Pada dasarnya
kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut
memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya kita sedang mengontrol
perilaku murid tersebut, hal ini karena murid tersebut sedang mengizinkan
dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang
dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki
tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai
Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan
bermanfaat.
Penguatan positif
atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi
murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha untuk
mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid
tersebut akan menyadarinya dan mencoba untuk menolak bujukan kita, atau bisa
jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk
berusaha.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah
dapat menguatkan karakter.
Menggunakan
kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada identitas gagal.
Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka. Mereka mengembangkan
dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru untuk mengidentifikasi
bahwa mereka melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan
suara halus untuk menyampaikan pesan negatif.
Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.
Banyak orang
dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat
murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang dilakukan dapat diterima,
selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu
pula, orang dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif
untuk jangka waktu panjang, dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.
Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada
pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership,
1991) mengatakan bahwa,
“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah
sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama
kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda
melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda,
skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.

2.
Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia
Setelah memahami
perbedaan teori stimulus respons dan teori kontrol pada pembahasan sebelumnya,
sekarang mari kita belajar tentang konsep disiplin positif yang merupakan unsur
utama dalam terwujudnya budaya positif yang kita cita-citakan di
sekolah-sekolah kita.Kebanyakan guru, sangat tertarik dengan topik pembahasan
tentang disiplin. Mereka berpendapat bahwa kalau saja anak-anak bisa disiplin,
pasti mereka akan bisa belajar. Para guru juga berpendapat bahwa mendisiplinkan
anak-anak adalah bagian yang paling menantang dari pekerjaan mereka.
Makna Kata Disiplin
Ketika mendengar kata “disiplin”, apa yang terbayang
di benak Anda? Apa yang terlintas di pikiran Anda? Kebanyakan orang akan
menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada
peraturan. Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman,
padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak
harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir
dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali.
Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai
menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan
kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan
bahwa
“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin
yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita
sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja;
sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa
lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam
suasana yang merdeka.
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan,
Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)
Disitu Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai
kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan
murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat.
Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal.
Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain
untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar,
bukan dari dalam diri kita sendiri.
Adapun definisi kata ‘merdeka’ menurut Ki Hajar
adalah:
mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh,
nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya
terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri)
Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane
Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan
bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang
artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama
dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau
pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu
aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi
intrinsik, bukan ekstrinsik.
Diane juga menyatakan bahwa arti asli dari kata
disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates
dan Plato. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju
kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan kata
lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan
bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai
yang kita hargai.
Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin
diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya
karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Dalam hal ini Ki Hajar menyatakan;
“...pertanggungjawaban atau verantwoordelijkheld
itulah selalu menjadi sisihannya hak atau kewajiban dari seseorang yang pegang
kekuasaan atau pimpinan dalam umumnya. Adapun artinya tidak lain ialah orang
tadi harus mempertanggungjawabkan dirinya serta tertibnya laku diri dari segala
hak dan kewajibannya.
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan,
Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 469)
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan
anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan
mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik,
bukan ekstrinsik.
Referensi:
Restitution: Restructuring School Discipline, Diane Chelsom Gossen, 2001, New
View Publications, North Canada
Ki Hajar Dewantara; Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan,
Sikap Merdeka,2013, UST-Press bekerjasama dengan Majelis Luhur Tamansiswa
Pertanyaan Pemantik:
Bagaimana cara membuat murid disiplin?
Siapakah yang bisa mendisiplinkan murid?
Apakah guru yang bisa mendisiplinkan murid?
Atau Kepala Sekolah?
Atau orangtua murid?
Atau murid itu sendiri?
Mengapa?
Mari kita tanyakan ke diri kita sendiri, bagaimana
kita berperilaku? Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan
sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang
lain? Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit
atau ketidaknyamanan, Terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan
apa yang kita mau.
Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda melakukan
sesuatu untuk mendapat senyuman dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Atau
untuk mendapatkan uang? Apa lagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu?
Untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai motivasi
manusia, mari kita baca artikel ini:
3 Motivasi Perilaku Manusia
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3
alasan motivasi perilaku manusia:
1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku
manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman
atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak
melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin
muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak
terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan
tersebut.
2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari
orang lain.
Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini
orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila
saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian
dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia
berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah,
pengakuan, atau imbalan.
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan
menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi
orang yang seperti apa bila saya melakukannya?. Mereka melakukan sesuatu karena
nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena
mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini
tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin
positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.
Pernahkan Anda berada dalam sebuah situasi dimana anda
sengaja melakukan sesuatu yang menyakitkan bagi anda, bahkan bertabrakan dengan
penghargaan dari orang lain? Mengapa anda tetap memilih melakukannya padahal
anda tahu akibatnya akan menyakitkan, anda mungkin akan dikecam secara sosial,
bahkan ada kerugian secara finansial? Apa prinsip-prinsip yang anda perjuangkan
dan anda lindungi? Saat itu, anda sedang menjadi orang yang seperti apa?
Tujuan dari Disiplin Positif
Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan
motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang
mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka
percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah
memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak
akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku
baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang
yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita
sebagai guru untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada
murid-murid kita?
Ø
cara kita sebagai guru untuk menanamkan disiplin
positif yang positif ini kepada murid-murid kita adalah dengan ; - mengenalkn
disiplin positif sejak dini, - mendiskusikan setiap aturan dengan kesepatan
murid, - memberikan konsekuensi yang logis, memberikan sikap yang tegas namun
tidak marah, - memberi apresiasi di setiap pencapaian siswa, memberikan contoh
yang dapat dijadikan panutan murid
3.
Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan
3.1 Keyakinan Kelas
Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat
menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut
menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk
terbentuknya budaya positif pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati
keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga
kelas. Hal ini berkaitan dengan modul 1.2 dan modul 1.3 yang membahas tentang
nilai-nilai kebajikan dan visi sebuah sekolah yang perlu ada untuk menentukan
arah tujuan dari sebuah institusi/sekolah. Penyatuan pemikiran untuk
mendapatkan nilai-nilai kebajikan serta visi sekolah tersebut kemudian
diturunkan di kelas-kelas menjadi keyakinan kelas yang disepakati bersama.
Mengapa keyakinan kelas,
mengapa tidak peraturan kelas saja?
Pertanyaan berikut adalah, “Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan
helm pada saat mengendarai kendaraan roda dua/motor?” Kemungkinan jawaban Anda
adalah untuk ‘keselamatan’. Pertanyaan berikut adalah, “Mengapa kita memiliki
peraturan tentang penggunaan masker dan mencuci tangan setiap saat?” Mungkin
jawaban Anda adalah “untuk kesehatan dan/atau keselamatan”.
Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu
‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang
disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara,
bahasa maupun agama. Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih
memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang
akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada
hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Murid-murid pun demikian, mereka
perlu mendengarkan dan mendalami tentang suatu keyakinan, daripada hanya
mendengarkan peraturan-peraturan yang mengatur mereka harus berlaku begini atau
begitu.
Pembentukan Keyakinan
Kelas:
o
Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih
rinci dan konkrit.
o
Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
o
Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
o
Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan
dipahami oleh semua warga kelas.
o
Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan
tersebut.
o
Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan
kelas lewat kegiatan curah pendapat.
o
Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
Prosedur Pembentukan
Keyakinan Kelas:
1.
Mempersilakan
murid-murid di kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan yang perlu
disepakati di kelas.
2.
Mencatat semua masukan-masukan
para murid di papan tulis atau di kertas besar (kertas ukuran poster), di mana
semua anggota kelas bisa melihat hasil curah pendapat.
3.
Susunlah keyakinan kelas
sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Kelas’. Gantilah kalimat-kalimat dalam
bentuk negatif menjadi positif.
Contoh
Kalimat negatif : Jangan berlari di kelas atau koridor.
Kalimat positif: Berjalanlah di kelas atau koridor.
4.
Tinjau kembali daftar
curah pendapat yang sudah dicatat. Anda mungkin akan mendapati bahwa pernyataan
yang tertulis di sana masih banyak yang berupa peraturan-peraturan.
Selanjutnya, ajak murid-murid untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan
yang menjadi inti dari peraturan tersebut. Contoh: Berjalan di kelas,
Dengarkan Guru, Datanglah tepat waktu bisa disarikan menjadi 1 Keyakinan, yaitu
keyakinan untuk Saling Menghormati atau nilai kebajikan Hormat. Keyakinan
inilah yang dijadikan daftar untuk disepakati. Kegiatan ini juga merupakan
peralihan dari bentuk peraturan ke keyakinan kelas.
5.
Tinjau ulang Keyakinan Kelas
secara bersama-sama. Seharusnya setelah beberapa peraturan telah disatukan
menjadi beberapa keyakinan maka jumlah butir pernyataan keyakinan akan
berkurang. Sebaiknya keyakinan kelas tidak terlalu banyak, bisa berkisar antara
3-7 prinsip/keyakinan. Bilamana terlalu banyak, maka warga kelas akan sulit
mengingatnya.
6.
Setelah keyakinan kelas
selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau ulang, dan
menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan kelas tersebut, termasuk guru dan
semua murid.
7.
Keyakinan Kelas
selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua
warga kelas.
Keyakinan Kelas 1

Keyakinan Kelas 5:

Keyakinan Kelas 7:

3.2 Hukuman,
Sanksi, Restitusi
Dalam menjalankan
peraturan ataupun keyakinan kelas, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya
sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang penerapan penegakan
peraturan atau keyakinan kelas kita selama ini. Penerapan terhadap suatu
pelanggaran bisa dalam bentuk hukuman atau sanksi, atau berupa Restitusi. Namun
sebelum kita melangkah kepada penerapan Restitusi, kita perlu bertanya adakah
perbedaan antara hukuman dan Sanksi? Bila sama, di mana persamaannya? Bila
berbeda, bagaimana perbedaannya? Perlu ditambahkan bahwa bentuk sanksi untuk
lingkungan pendidikan disesuaikan menjadi konsekuensi. Pemahaman konsekuensi
adalah bahwa dalam setiap tindakan atau perbuatan, pasti akan berkonsekuensi,
baik atau kurang baik. Di bawah ini akan ditunjukkan bagan perbedaan hukuman
dan konsekuensi serta restitusi.
Bila kita melihat bagan
di bawah ini, disiplin merupakan identitas berhasil (sukses) dan hukuman
merupakan identitas gagal. Disiplin di sini terbagi dua bagian yaitu Disiplin
dengan Sanksi/Konsekuensi dan Disiplin dengan Restitusi, yang selanjutnya akan
dijelaskan dengan lebih rinci di bagian 2.5 dan 2.6.
Use left and right arrow to change slide in
that direction whenever canvas is selected.

Use left and right arrow to change slide in
that direction whenever canvas is selected.

Berdasarkan bagan di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa
hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa
yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak
guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa suatu
diskusi atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman
yang diberikan bisa berupa fisik maupun verbal dan murid disakiti oleh suatu
perbuatan atau kata-kata.
Sementara disiplin dengan bentuk sanksi atau konsekuensi, sudah
terencana atau sudah disepakati. Sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan
guru. Biasanya pembentukan sanksi atau konsekuensi dibentuk oleh pihak guru
(sekolah), dan murid sudah mengetahui sanksi/konsekuensi yang akan diterima.
Pada sanksi/konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu
pendek. Konsekuensi atau sanksi biasanya diberikan berdasarkan suatu
pengukuran, misalnya: setelah 3 kali ditegur di kelas oleh guru karena tugasnya
belum selesai, atau mengobrol, maka murid akan kehilangan waktu bermain, dan
harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan ini sudah
diketahui oleh murid dan diketahui sebelumnya. Guru senantiasa perlu memonitor
murid.
3.3 Dihukum oleh
Penghargaan
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference,
Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara
mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran
yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri
adalah penghargaan sesungguhnya.
Kohn selanjutnya juga mengemukakan beberapa alasan mengapa penghargaan
justru sama seperti menghukum seseorang.
Pengaruh
Jangka Pendek dan Jangka Panjang
o
Penghargaan berlaku untuk mendapatkan seseorang melakukan sesuatu dalam
jangka waktu pendek.
o
Jika kita menggunakan penghargaan lagi, dan lagi, maka orang tersebut akan
bergantung pada penghargaan yang diberikan, serta kehilangan motivasi dari
dalam.
o
Jika kita mendapatkan penghargaan untuk melakukan sesuatu yang baik, maka
selain kita senantiasa berharap mendapatkan penghargaan tersebut lagi, kita pun
menjadi tidak menyadari tindakan baik yang kita lakukan.
Penghargaan
Tidak Efektif
o
Suatu penghargaan adalah suatu benda atau peristiwa yang diinginkan, yang
dibuat dengan persyaratan: Hanya jika Anda melakukan hal ini, Anda akan
mendapatkan penghargaan yang diinginkan.
o
Jika saya mengharapkan suatu penghargaan dan tidak mendapatkannya, maka
saya akan kecewa dan berkecil hati, serta kemungkinan lain kali saya tidak akan
berusaha sekeras sebelumnya.
o
Jika kita memberikan seseorang suatu penghargaan untuk melakukan sesuatu,
maka kita harus terus menerus memberikan penghargaan itu jika kita ingin orang
tersebut meneruskan perilaku yang kita inginkan.
o
Orang yang berusaha berhenti merokok, atau orang yang berusaha diet
menguruskan badan bila diberikan penghargaan tidak akan berhasil.
Penghargaan
Merusak Hubungan
o
Ketika seorang diberi penghargaan atau dipuji di depan orang banyak, maka
yang lain akan merasa iri, dan sebagian dari mereka akan tidak menyukai orang
yang diberikan penghargaan tersebut.
o
Jika seorang guru sering memberikan penghargaan kepada murid-muridnya,
besar kemungkinan murid-muridnya termotivasi hanya untuk menyenangkan gurunya.
Mereka tidak akan bersikap jujur kepada guru tersebut.
o
Penghargaan menciptakan persaingan di dalam kelas, dan persaingan
menciptakan kecemasan.
o
Mereka yang percaya bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk
mendapatkan penghargaan akan berhenti mencoba.
Penghargaan
Mengurangi Ketepatan
Riset I: Dalam sebuah
percobaan, sekelompok anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun diminta untuk
melihat gambar-gambar wajah yang ditampilkan di layar, dan mereka harus
memberitahukan jika wajah-wajah tersebut sama atau berbeda. Gambar-gambar
tersebut hampir sama. Beberapa dari mereka diberi penghargaan (dalam bentuk
uang) pada saat mereka memberikan jawaban benar, sementara sebagian yang lain
tidak.
Hasil: Anak laki-laki yang dibayar membuat
lebih banyak kesalahan.
Riset II: Anak-anak diminta
mengingat kata-kata tertentu, kemudian mereka diminta mengambil kartu yang
berisi kata-kata yang diingat tersebut setiap kali muncul. Beberapa anak
diberikan permen setiap mereka memberikan jawaban yang benar, dan sebagian yang
lain hanya diberitahu saja bila jawaban mereka benar.
Hasil: Anak-anak yang
mendapatkan permen jawabannya banyak yang tidak tepat dibandingkan anak-anak
yang hanya diberitahu jawabannya benar.
Penghargaan
Menghukum
o
Penghargaan menghukum mereka yang tidak mendapatkan penghargaan. Misalnya
dalam sistem ‘ranking’. Mereka yang mendapatkan ranking kedua akan merasa
‘dihukum’.
o
Penghargaan dan hukuman adalah hal yang sama, karena keduanya mencoba
mengendalikan perilaku seseorang.
o
Karena orang pada dasarnya tidak suka dikendalikan, dalam jangka waktu
lama, penghargaan akan terlihat sebagai hukuman.
o
Jika suatu penghargaan diharapkan, namun Anda tidak mendapatkannya, Anda
akan merasa dihukum.
Disadur dari materi
pelatihan ‘Dihukum oleh Penghargaan’, Yayasan Pendidikan Luhur-Foundation for
Excellence in Education, 2006.
4.
Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia
Pertanyaan Pemantik:
Ibu
Ambar, guru wali kelas kelas 2A di SD Pelita Hati, sedang bingung menghadapi
ulah salah satu murid di kelasnya, Doni. Beberapa anak di kelas 2A telah
datang padanya dan mengeluhkan Doni yang seringkali meminta bekal makan siang
mereka dengan paksa. Jika Anda menghadapi situasi seperti Ibu Ambar, apa yang
akan anda lakukan? Menurut anda, kira-kira apa alasan Doni melakukan hal itu?
Merujuk pada situasi yang sedang dihadapi Ibu
Ambar di atas, dalam konteks penegakan disiplin positif, Ibu Ambar sebaiknya
mencari tahu alasan Doni melakukan tindakan tersebut agar mengetahui kebutuhan
mana yang sedang berusaha dipenuhi oleh Doni. Mari kita melihat sebuah konsep 5
Kebutuhan Dasar Manusia menurut Dr. William Glasser dalam “Choice
Theory”.
5 Kebutuhan Dasar Manusia

Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan
tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan
apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan,
sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan
dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih
sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan
kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang
bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu
sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Untuk
lebih jelasnya, mari kita lihat satu persatu kelima kebutuhan dasar ini.
Use left and right arrow to change slide in
that direction whenever canvas is selected.
Cinta dan kasih sayang
(Kebutuhan untuk Diterima)
Kebutuhan ini dan tiga kebutuhan berikutnya
adalah kebutuhan psikologis. Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki meliputi
kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk memberi dan
menerima kasih sayang dan kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari suatu
kelompok. Kebutuhan ini juga meliputi keinginan untuk tetap terhubung dengan
orang lain, seperti teman, keluarga, pasangan hidup, teman kerja, binatang
peliharaan, dan kelompok dimana kita tergabung.
Anak-anak yang memiliki kebutuhan dasar cinta
dan kasih sayang yang tinggi biasanya ingin disukai dan diterima oleh
lingkungannya. Mereka juga akrab dengan orang tuanya. Biasanya mereka belajar
karena suka pada gurunya. Bagi mereka, teman sebaya sangatlah penting. Mereka
juga biasanya suka bekerja dalam kelompok.
Kebutuhan Bertahan
Hidup
Kebutuhan bertahan hidup (survival) adalah
kebutuhan yang bersifat fisiologis untuk bertahan hidup misalnya kesehatan,
rumah, dan makanan. Seks sebagai bagian dari proses reproduksi termasuk
kebutuhan untuk tetap bertahan hidup. Komponen psikologis pada kebutuhan ini
meliputi kebutuhan akan perasaan aman. Dalam kasus Doni di atas, apabila
jawaban Doni ketika ditanya oleh Ibu Ambar adalah karena ia lapar dan
orangtuanya tidak membawakannya bekal makan siang, maka kebutuhan dasar yang sedang
berusaha dipenuhi oleh Doni, adalah kebutuhan untuk bertahan hidup
(survival).

Use left and right arrow to change slide in
that direction whenever canvas is selected.
Dalam kasus diatas, apabila Doni menjawab
bahwa alasannya mengambil bekal temannya karena dia merasa senang temannya jadi
memperhatikan dia. Ketika temannya melaporkan tindakannya itu pada gurunya, dan
gurunya memberitahu orang tuanya, sehingga orang tuanya jadi memperhatikan dia,
maka kebutuhan dasar yang sedang dipenuhi Doni adalah kebutuhan akan cinta dan
kasih sayang.
Penguasaan (Kebutuhan
Pengakuan atas Kemampuan)
Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan
untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas
prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki rasa harga diri.
Kebutuhan ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa membuat
perbedaan, bisa membuat pencapaian, kompeten, diakui, dihormati. Ini meliputi
self esteem, dan keinginan untuk meninggalkan pengaruh.
Anak-anak yang memiliki kebutuhan dasar akan
kekuasaan yang tinggi biasanya selalu ingin menjadi pemimpin, mereka juga suka
mengamati sebelum mencoba hal baru dan merasa kecewa bila melakukan kesalahan.
Mereka juga biasanya rapi dan sistematik dan selalu Ingin mencapai yang terbaik
Dalam kasus diatas, apabila jawaban Doni
adalah dia merasa hebat karena temannya jadi takut dengan dia dan menuruti
keinginannya, maka sebetulnya Doni sedang berusaha memenuhi kebutuhan dasarnya
akan kekuasaan.
Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan)Kebutuhan untuk bebas adalah kebutuhan akan
kemandirian, otonomi, memiliki pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup
seseorang. Anak-anak dengan kebutuhan kebebasan yang tinggi menginginkan
pilihan, mereka perlu banyak bergerak, suka mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh
orang lain dan senang mencoba hal baru dan menarik.
Use left and right arrow to change slide in
that direction whenever canvas is selected.
Bila jawaban Doni dalam kasus diatas adalah
bahwa dia merasa bosan dengan bekal makanan yang dibawakan ibunya dari rumah,
karena ibunya selalu membawakan bekal yang sama, oleh karena itu dia ingin
mencoba makanan teman-temannya yang beraneka ragam, maka Doni sedang berusaha
memenuhi kebutuhannya akan kebebasan/freedom.
Kesenangan (Kebutuhan
untuk merasa senang)
Kebutuhan akan kesenangan adalah kebutuhan
untuk mencari kesenangan, bermain, dan tertawa. Bayangkan hidup tanpa
kenikmatan apa pun, betapa menyedihkan. Glasser menghubungkan kebutuhan akan
kesenangan dengan belajar. Semua hewan dengan tingkat intelegensi tinggi
(anjing, lumba-lumba, primata, dll) bermain. Saat mereka bermain, mereka
mempelajari keterampilan hidup yang penting. Manusia tidak berbeda.
Anak-anak dengan kebutuhan dasar kesenangan
yang tinggi biasanya Ingin menikmati apa yang dilakukan. Mereka juga
konsentrasi tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi. Mereka suka permainan
dan suka mengoleksi barang, suka bergurau, suka melucu dan juga menggemaskan,
bahkan saat bertingkah laku buruk.
Dalam kasus diatas, bila Doni menjawab bahwa
ia melakukannya karena iseng saja dan ia menikmati ekspresi wajah
teman-temannya yang kesal karena diambil makanannya dan menurut dia, ekspresi
teman-temannya itu lucu. Maka berarti Doni sedang berusaha memenuhi
kebutuhannya akan kesenangan.
Semua orang senantiasa
berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara. Bila mereka tidak
bisa mendapatkan kebutuhannya dengan cara yang positif, mereka akan mencoba
mendapatkannya dengan cara yang negatif.
Seorang murid yang tidak
begitu berhasil secara akademik mungkin kebutuhannya akan kekuasaan tidak
terpenuhi di sekolah. Oleh karena itu, mungkin dia akan mencoba untuk memenuhi
kebutuhan kekuasaannya, dengan mencoba mengatur orang lain di lapangan bermain,
atau bahkan menyakiti mereka secara fisik. Sebagai guru, kita dapat
melibatkannya dalam kegiatan yang memberi peluang murid tersebut membuat
pencapaian yang berarti.
Seorang yang tidak
merasa diterima oleh teman-temannya, kebutuhannya akan cinta dan kasih sayang
tidak terpenuhi, oleh karena itu dia mungkin akan memiliki satu teman dan
memisahkan diri yang lain. Sebagai guru, kita bisa membangun hubungan yang bisa
membangun kepercayaan dan keintiman dengan anak ini.
Dunia Berkualitas
Dunia Berkualitas Anda
adalah tempat khusus dalam pikiran Anda, tempat Anda menyimpan gambaran
representasi dari semua yang Anda inginkan: bisa berisi orang-orang, hal-hal
dan apa saja yang terbaik dalam hidup Anda dan membuat Anda merasa bahagia dan
terpenuhi kebutuhan dasar Anda. Dr. William Glasser menyebutnya seperti semacam,
album foto sehingga isinya tidak akan terlalu banyak, hanya akan terdiri dari
beberapa hal saja yang sangat signifikan dan benar-benar terbaik dalam hidup
Anda yang membuat hidup Anda menjadi lebih bermakna. Kebutuhan dasar itu
bersifat lebih umum dan universal, sedangkan dunia berkualitas lebih unik dan
personal.
Orang, tempat, benda,
nilai-nilai, dan kepercayaan yang penting bagi Anda akan termasuk di sana.
Untuk masuk ke Dunia Kualitas, syaratnya adalah bahwa sesuatu itu harus terasa
sangat baik bagi Anda dan memenuhi setidaknya satu atau lebih kebutuhan dasar
Anda. Dalam menentukan segala sesuatu yang masuk dalam dunia berkualitas, tidak
perlu kita terlalu mempertimbangkan standar masyarakat tentang apa saja yang
penting dan yang tidak. Gambaran Dunia Berkualitas adalah unik dan spesifik
untuk setiap orang. Jika Anda bisa hidup di Dunia Kualitas Anda, hidup akan
sempurna buat Anda, tapi sayangnya, Anda tidak bisa tinggal di sana.
Murid kita juga
mempunyai gambaran dunia berkualitas mereka. Tentunya sebagai guru kita ingin
mereka memasukkan hal-hal yang bermakna dan nilai-nilai kebajikan yang hakiki
ke dalam dunia berkualitas mereka. Bila guru dapat membangun interaksi yang
memberdayakan dan memerdekakan murid, maka murid akan meletakkan dirinya
sendiri sebagai individu yang positif dalam dunia berkualitas karena mereka
menghargai nilai-nilai kebajikan.
5.
Lima (5) Posisi Kontrol
Pertanyaan
Pemantik:
Bacalah kasus-kasus di
bawah ini, dan cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia:
o Tisa dan Hana dipanggil masuk ke ruangan Ibu
Dewi, kepala sekolah SMA Makmur. Ibu Dewi baru saja mendapatkan pengaduan dari
ibunda Tisa, bahwa Hana menggunakan kata-kata kasar, dan merendah-rendahkan
Tisa di sosial media.
o Anto jarang sekali hadir di pembelajaran jarak
jauh, dan pada saat hadir pun, Anto seringkali menggunakan kata-kata kasar di
kolom chat mengejek teman-temannya. Hal ini sudah sangat mengganggu dan
beberapa orang tua murid yang mengikuti pembelajaran daring mengeluhkan tentang
perilaku Anto di pembelajaran jarak jauh.
Bila Anda adalah guru,
penerapan disiplin apakah yang akan Anda lakukan untuk kasus Hana dan kasus
Anto? Mengapa?
Ø
Untuk kasus hana kita
berikan sanksi dan konsekuensi terhadap apa yang dia lakukan, dengan cara
memberikan pngertian kepadanya bahwa penggunaan kata kasar dan
merendah-rendahkan teman itu adalah hal yang tidak baik, maka hana harus minta
maaf kapada tisa dan harus memperbaiki tingkah lakunya dengan tidak lagi
mengeluarkan kata-kata kasar dan merendahkan teman.
Ø
Untuk kasus Anto disini
kita berikan konsekuensi juga karena apa yang dilakukannya itu juga tidak baik,
diberikan pengertian secara persuasif agar apa yang dia lakukan tidak di ulang
lagi.
Diane Gossen dalam
bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa
guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas kita
selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat memerdekakan dan memandirikan
murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan bersandar pada
teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol
yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol.
Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah,
Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Mari kita tinjau lebih dalam kelima
posisi kontrol ini:
Penghukum: Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman
fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa
mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan
murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan
berkata:
“Patuhi aturan saya,
atau awas!”
“Kamu selalu saja salah!”
“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”
Guru seperti ini senantiasa
percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara
dia.
Pembuat Orang Merasa
Bersalah: pada posisi ini
biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan
menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah,
atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti:
“Ibu sangat kecewa
sekali dengan kamu”
“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”
“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?”
Di posisi ini murid akan
memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak
berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.
Teman: Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti
murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi
teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan
baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan
hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata:
“Ayo bantulah, demi
bapak ya?”
“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?”
“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.
Hal negatif dari posisi
teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan
kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa
dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha, Hal lain yang mungkin timbul adalah
murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya.
Murid akan tergantung pada guru tersebut.
Monitor/Pemantau: Memonitor berarti mengawasi. Pada saat kita
mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi.
Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan
menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita
dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan
yang diajukan seorang pemantau:
“Peraturannya apa?”
“Apa yang telah kamu lakukan?”
“Sanksi atau konsekuensinya apa?”
Seorang pemantau sangat mengandalkan
penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku
seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi
monitor sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung
jawab guru dalam mengontrol murid.
Manajer: Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi
mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan
murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid
agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah
memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian,
bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila
diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia
yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada
Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya
sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya,
maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat
konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki
kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata:
“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas)
“Apakah kamu meyakininya?”
“Jika kamu menyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?”
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?”
“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”
Tugas seorang manajer
bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat
mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya,
tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan
kuat.
Bisa jadi dalam praktik
penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau
Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau
diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi
kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah
murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas
segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan
yang positif, nyaman, dan aman.
Ø 5 Posisi kontrol dalam penerapan disiplin
positif adalah ; Penghukum, Pembuat orang merasa bersalah, Teman, Pemantau dan
manajer, dari kelima posisi kontrol tersebut manajer adalah sikap yang baik
diantara kelimanya, yang mana manajer dapat membuat siswa menjadi bertanggung
jawab dengan apa yang telah diperbuat, dan akan bisa merubah menjadi lebih baik
lagi untuk pembelajaran dikemudian hari, serta mendukung murid agar dapat
menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Contoh penerapan
Di bawah ini adalah
contoh peragaan yang dikutip dari Yayasan Pendidikan Luhur (2007) di mana ada
seorang murid yang melanggar suatu peraturan sekolah. Selanjutnya ada dialog
antara seorang guru dengan murid tersebut, serta bagaimana guru tersebut
menjalankan disiplin dengan menggunakan kelima posisi kontrol untuk kasus yang
sama:
Adi yang terlambat hadir
di sekolah.
Penghukum (Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata
melotot, dan jari menunjuk-nunjuk menghardik):
“Terlambat lagi, pasti terlambat lagi, selalu datang terlambat, kapan bisa
datang tepat waktu?”
Tanyakan kepada diri
Anda:
Bagaimana perasaan murid bila guru berbicara seperti itu pada saat muridnya
datang terlambat?
Akibat:
Kemungkinan murid marah dan mendendam atau bersifat agresif. Bisa jadi sesudah
kembali duduk, murid tersebut akan mencoret-coret bukunya atau meja tulisnya.
Lebih buruk lagi, sepulang sekolah, murid melihat motor atau mobil bapak/ibu
guru dan akan menggores kendaraan tersebut dengan paku.
Pembuat orang lain
merasa bersalah (Nada suara
memelas/halus/sedih, bahasa tubuh: merapat pada anak, lesu):
“Adi, kamu ini bagaimana ya? Kamu sudah berjanji dengan ibu tidak akan
terlambat lagi. Kamu kenapa ya senang sekali mengecewakan Ibu. Ibu benar-benar
kecewa sekali.”
Bagaimana perasaan murid
bila ditegur seperti cara ini?
Akibat:
Murid akan merasa bersalah. Bersalah telah mengecewakan ibu atau bapak gurunya.
Murid akan merasa menjadi orang yang gagal dan tidak sanggup membahagiakan
orang lain. Kadangkala sikap seperti ini lebih berbahaya dari sikap penghukum,
karena emosi akan tertanam rapat di dalam, murid menahan perasaan. Tidak
seperti murid dalam dengan guru penghukum, di mana murid bisa menumpahkan
amarahnya walaupun dengan cara negatif. Murid tertekan seperti inilah yang
tiba-tiba bisa meletus amarahnya, dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang
lain.
Teman (nada suara: ramah, akrab, dan bercanda,
bahasa tubuh: merapat pada murid, mata dan senyum jenaka)
“Adi, ayolah, bagaimana sih kamu. Kemarin kamu sudah janji ke bapak bukan,
kenapa terlambat lagi? (sambil tertawa ringan). Ya, sudah tidak apa-apa, duduk
dulu sana. Nanti Pak Guru bantu. Kamu ini.” (sambil senyum-senyum).
Bagaimana perasaan murid
dengan sikap guru seperti ini?
Akibat:
Murid akan merasa senang dan akrab dengan guru. Ini termasuk dampak yang
positif, hanya saja di sisi negatif murid menjadi tergantung pada guru
tersebut. Bila ada masalah, dia merasa bisa mengandalkan guru tersebut untuk
membantunya. Akibat lain dari posisi teman, Adi hanya akan berbuat sesuatu bila
yang menyuruh adalah guru tersebut, dan belum tentu berlaku yang sama dengan guru
atau orang lain.
Pemantau (nada suara datar, bahasa tubuh yang
formal): Guru: “Adi, tahukah kamu jam berapa kita memulai?”
Adi: “Tahu Pak!”
Guru: “Kamu terlambat 15 menit, apakah kamu sudah mengerti apa yang harus
dilakukan bila terlambat?”
Adi: “Paham Pak, saya harus tinggal kelas pada jam istirahat nanti dan
mengerjakan tugas ketertinggalan saya.”
Guru: “Ya, benar, nanti pada saat jam istirahat kamu harus sudah di kelas untuk
menyelesaikan tugas yang tertinggal tadi. Saya tunggu”
Bagaimana perasaan murid
diperlakukan seperti ini?
Akibat:
Murid memahami sanksi yang harus dijalankan karena telah melanggar salah satu
peraturan sekolah. Guru tidak menunjukkan suatu emosi yang berlebihan, menjadi
marah atau membuat merasa berbuat salah. Murid tetap dibuat tidak nyaman
yaitu dengan harus tinggal kelas pada waktu jam istirahat dan mengerjakan
tugas. Guru tetap harus memonitor atau memantau murid pada saat mengerjakan
tugas di jam istirahat karena murid tidak bisa ditinggal seorang diri.
Manajer (nada suara tulus, bahasa tubuh tidak
kaku, mendekat ke murid):
Guru: “Adi, apakah kamu mengetahui jam berapa sekolah dimulai?”
Adi: “Tahu Pak, jam 7:00!”
Guru: “Ya, jadi kamu terlambat, kira-kira bagaimana kamu akan memperbaiki
masalah ini?”
Adi: “Saya bisa menanyakan teman saya Pak, untuk mengejar tugas yang
tertinggal.”
Guru: “Baik, itu bisa dilakukan. Apakah besok akan ada masalah untuk kamu
agar bisa hadir tepat waktu ke sekolah?”
Adi: “Tidak Pak, saya bisa hadir tepat waktu.”
Guru: “Baik. Saya hargai usahamu untuk memperbaiki diri”
Bagaimana perasaan murid
diperlakukan seperti ini?
Pada posisi Manajer maka
suara guru sebaiknya tulus. Tidak perlu marah, tidak perlu meninggikan suara,
apalagi menunjuk-nunjuk jari ke murid, berkacak pinggang, atau bersikap
seolah-olah menyesal, tampak sedih sekali akan perbuatan murid ataupun bersenda
gurau menempatkan diri sebagai teman murid.
Fokus adalah pada murid,
bukan untuk membahagiakan guru atau orang tua. Murid sudah mengetahui adanya
suatu masalah, dan sesuatu perlu terjadi. Bila guru mengambil posisi Pemantau,
guru akan melihat apa sanksinya apa peraturannya? Namun pada posisi Manajer,
guru akan mengembalikan tanggung jawab pada murid untuk mencari jalan keluar
permasalahannya, tentu dengan bimbingan guru.
6.
Segitiga Restitusi
Pertanyaan Pemantik:
Bapak Ibu calon guru
penggerak, apa yang akan Anda lakukan bila,
o Dalam sebuah acara pesta ulang tahun, teman Anda
memecahkan gelas. Apakah Anda akan membiarkan dia membayar harga gelas yang
dipecahkannya?
o Anda sudah janji bertemu dengan teman Anda,
namun ternyata dia juga memiliki janji penting bertemu orang lain di tempat
lain, dan Anda terpaksa naik taksi untuk menemui teman Anda di tempat itu,
apakah Anda akan meminta teman Anda membayar biaya taksi Anda menuju ke tempat
tersebut?
o Pegawai Anda membuat kesalahan yang menyebabkan
kerugian finansial pada perusahaan, pegawai tersebut menawarkan untuk bekerja
lembur tanpa bayaran, apakah Anda sebagai pemilik perusahaan akan menerimanya?
Pertanyaannya sekarang,
bagaimana kita sebaiknya respon kita bila ada murid kita melakukan
kesalahan? Mari kita baca artikel mengenai Restitusi!
Restitusi
Restitusi
Sebuah Cara Menanamkan disiplin positif Pada Murid
Restitusi adalah proses
menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga
mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat
(Gossen; 2004)
Restitusi juga adalah
proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah,
dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan
bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Restitusi membantu murid
menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah
berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk
menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya
adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka
percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada
dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.
Melalui restitusi,
ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan
murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan
untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya.
Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah
berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser
tentang solusi menang-menang.
Ada peluang luar biasa
bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada
hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab
atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar
dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.
Ketika guru memecahkan masalah perilaku mereka, murid akan kehilangan
kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang berharga untuk hidup
mereka.
Di bawah ini adalah
ciri-ciri restitusi yang membedakannya dengan program disiplin lainnya.
Restitusi bukan untuk
menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan
Dalam restitusi, ketika
murid berbuat salah, guru tidak mengarahkan untuk menebus kesalahan dengan
membayar sejumlah uang, memperbaiki kerugian yang timbul, atau sekedar meminta
maaf. Karena kalau fokusnya kesana, maka murid yang berbuat salah akan fokus pada
tindakan untuk menebus kesalahan dan menghindari ketidaknyamanan, yang bersifat
eksternal, bukannya pada upaya perbaikan diri, yang lebih bersifat
internal. Biasanya setelah menebus kesalahan, orang yang berbuat salah akan
merasa sudah selesai dengan situasi itu sehingga merasa lega, dan seolah-olah
kesalahan tidak pernah terjadi.
Terkadang bisa juga
muncul perasaan ingin balas dendam, bila orang yang berbuat salah sebetulnya
merasa tidak rela harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya. Kalau tindakan
untuk menebus kesalahan dipahami sebagai hukuman, maka mungkin mereka berpikir
untuk membuat situasinya menjadi impas. Pembalasan seperti ini akan
berdampak jangka panjang karena konfliknya akan tetap ada. Menebus kesalahan
itu tidak salah, namun biasanya tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih
kuat.
Restitusi sebenarnya
juga meliputi usaha untuk menebus kesalahan, tetapi sebaiknya merupakan
inisiatif dari murid yang melakukan kesalahan. Proses pemulihan akan terjadi
bila ada keinginan dari murid yang berbuat salah untuk melakukan sesuatu yang
menunjukkan rasa penyesalannya. Fokusnya tidak hanya pada mengurangi kerugian
pada korban, tapi juga bagaimana menjadi orang yang lebih baik dan melakukan
hal baik pada orang lain dengan kebaikan yang ada dalam diri kita.
Ketika murid belajar
dari kesalahan untuk menjadi lebih baik untuk masa depan, mereka akan
mendapatkan pelajaran yang mereka bisa pakai terus menerus di masa depan untuk
menjadi orang yang lebih baik.
Ø Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi
murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, Ada peluang luar biasa bagi murid
untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya
begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku
yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari
pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.
Ketika guru memecahkan masalah perilaku mereka, murid akan kehilangan
kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang berharga untuk hidup
mereka.
Restitusi memperbaiki
hubungan
Restitusi adalah tentang
memperbaiki hubungan dan memperkuatnya. Restitusi juga membantu murid-murid
dalam hal mereka ingin menjadi orang seperti apa dan bagaimana mereka ingin diperlakukan.
Restitusi adalah proses refleksi dan pemulihan. Proses ini menciptakan kondisi
yang aman bagi murid untuk menjadi jujur pada diri mereka sendiri dan
mengevaluasi dampak dari tindakan mereka pada orang lain. Ketika proses
pemulihan dan evaluasi diri telah selesai, mereka bisa mulai berpikir tentang
apa yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahan mereka pada orang yang menjadi
korban.
Restitusi adalah
tawaran, bukan paksaan
Restitusi yang dipaksa
bukanlah restitusi yang sebenarnya, tapi konsekuensi. Bila guru memaksa proses
restitusi, maka murid akan bertanya, apa yang akan terjadi kalau saya tidak
melakukannya. Misalnya mereka sebenarnya tidak suka konsekuensi yang guru
sarankan, mereka mungkin akan setuju dan akan melakukannya, tapi karena mereka
menghindari ketidaknyamanan atau menghindari kehilangan kebebasan atau
diasingkan dari kelompok. Mereka akan percaya kalau mereka menyakiti orang,
maka mereka juga tersakiti, maka mereka pikir itu impas. Seorang anak yang
memukul temannya akan mengatakan, “Kamu boleh pukul aku balik, biar impas”.
Memaksa melakukan restitusi bertentangan dengan perkembangan moral, yaitu
kebebasan untuk membuat pilihan. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk
menciptakan kondisi yang membuat murid bersedia menyelesaikan masalah dan
berbuat lebih baik lagi, dengan berkata, “Tidak apa-apa kok berbuat salah itu
manusiawi. Semua orang pasti pernah berbuat salah”. Pembicaraan ini bersifat
tawaran, bukan paksaan, bukan mengatakan, “Kamu harus lakukan ini, kalau tidak
maka…”
Restitusi menuntun untuk
melihat ke dalam diri
Dalam proses restitusi
kita akan melihat adanya ketidakselarasan antara tindakan murid yang berbuat
salah dan keyakinan mereka tentang orang seperti apa yang mereka inginkan.
Untuk membimbing proses pemulihan diri, guru bisa bertanya pada mereka:
o Kamu ingin menjadi orang seperti apa?
o Kamu akan terlihat, terdengar, dan terasa
seperti apa kalau kamu sudah menjadi orang yang seperti itu?
o Apa yang kamu percaya tentang bagaimana orang
harus memperlakukan orang lain?
o Bagaimana kamu mau diperlakukan ketika kamu
berbuat salah?
o Apa nilai yang diajarkan di keluargamu tentang
hal ini? Apakah kamu memegang nilai ini?
o Kalau tidak, lalu apa yang kamu percaya?
Kita tidak ingin
menciptakan rasa bersalah pada diri anak dengan bertanya seperti itu. Kalau
guru melihat rasa bersalah di wajah murid, maka guru harus cepat-cepat
mengatakan, “Tidak apa-apa kok berbuat salah”.
Ketika murid sudah
dibimbing untuk mengeksplorasi orang seperti apa yang mereka inginkan, guru
bisa mulai bertanya tentang kejadiannya, seberapa sering hal ini
terjadi, apa yang ia lakukan, ia berada di mana. Murid tidak akan
berbohong pada guru.
Restitusi mencari
kebutuhan dasar yang mendasari tindakan
Untuk berpindah dari
evaluasi diri ke restitusi diri, penting bagi murid untuk memahami dampak dari
tindakannya pada orang lain. Kalau murid paham bahwa setiap orang
memiliki kebutuhan dasar untuk dipenuhi, hal ini akan sangat membantu, sehingga
ketika murid melakukan kesalahan, mereka akan menyadari kebutuhan apa yang
sedang mereka coba penuhi, demikian juga kebutuhan orang lain.
Untuk membantu murid
mengenali kebutuhan dasarnya, guru bisa meminta mereka mengenali perasaan
mereka. Perasaan sedih dan kesepian menunjukkan adanya kebutuhan cinta dan
kasih sayang yang tidak terpenuhi. Perasaan dipaksa, atau terlalu banyak beban,
menunjukkan kurangnya kebutuhan akan kebebasan. Perasaan takut akan
kelelahan, kelaparan, menunjukkan pada kita kalau kita merasa tidak aman.
Perasaan bosan menunjukkan kurang terpenuhinya kebutuhan akan kesenangan.
Restitusi diri adalah
cara yang paling baik
Dalam restitusi diri
murid belajar untuk mengubah kebiasaan dari kecenderungan untuk mengomentari
orang lain, menjadi mengomentari diri sendiri. Dr. William Glasser menyatakan,
orang yang bahagia akan mengevaluasi diri sendiri, orang yang tidak bahagia
akan mengevaluasi orang lain.
3 Tahap Evaluasi Diri:
1.
Saya tidak suka cara saya berbicara padamu
2.
Kesalahan yang saya lakukan adalah
- Saya sebenarnya punya informasi yang
kamu butuhkan
- Saya lelah dan saya bicara terlalu
cepat
- Saya tidak jelas menyampaikan apa yang
saya inginkan
- Pemahaman saya berbeda dengan
pemahamanmu
3.
Besok lagi saya akan
- Menyampaikan informasi yang saya punya
dan kamu butuhkan
- Saya akan bicara lebih lambat
- Saya akan bicara lebih jelas tentang
keinginan saya
- Menyampaikan pemahaman saya padamu
Ketika murid bisa
melakukan restitusi diri maka dia akan bisa mengontrol dirinya dengan lebih
baik dengan tujuan yang lebih baik pula.
Ketika Anda berhadapan
dengan orang lain, dan melakukan evaluasi diri, maka 9 dari 10 orang yang
diajak bicara juga akan melakukan evaluasi diri juga. Mungkin akan ada 1 dari
10 orang yang diajak bicara, justru akan menggunakan kesempatan itu untuk
menghukum Anda. Kalau ini terjadi, tanyakan saja, apakah Anda mau menggunakan
kesempatan ini untuk menjelek-jelekkan saya atau Anda mau membuat situasi ini
menjadi lebih baik. Anda mau ke arah mana?
Restitusi fokus pada
karakter bukan tindakan
Dalam proses restitusi
diri, maka murid akan menyadari dia sedang menjadi orang yang seperti apa, yang
itu adalah menunjukkan fokus pada penguatan karakter. Ketika guru membimbing
murid untuk penguatan karakter, guru akan mengatakan, “Ibu/Bapak tidak terlalu
mempermasalahkan apa yang kamu lakukan hari ini, tetapi mari kita bicara
tentang apa yang akan kamu lakukan besok. Kamu bisa saja minta maaf, tapi
orang akan lebih suka mendengar apa yang akan kamu lakukan dengan lebih baik
lagi.
Restitusi menguatkan
Bisakah momen ketika
murid melakukan kesalahan menjadi sebuah momen yang baik? Jawabnya, tentu bisa,
asalkan ia bisa belajar dari kesalahan itu. Apa maksud dari kalimat kita bisa
lebih kuat setelah kita belajar dari kesalahan? Lebih kuat disini maksudnya
bukan menekan perasaan kita dalam-dalam. Kuat disini artinya menyadari apa yang
bisa murid ubah, dan murid benar-benar mengubahnya. Guru bisa bertanya, apa
yang dapat kamu ubah dari dirimu sendiri? Bagaimana kamu akan berubah?
Restitusi fokus pada
solusi
Dalam restitusi, guru
menstabilkan identitas murid dengan mengatakan, “Kita tidak fokus pada
kesalahan, Bapak/ibu tidak tertarik untuk mencari siapa yang benar, siapa yang
salah.
Restitusi mengembalikan
murid yang berbuat salah pada kelompoknya
Mari kita lihat praktik
pendidikan kita yang seringkali memisahkan anak-anak dari kelompoknya, misalnya
seorang anak TK bersikap tidak kooperatif pada saat kegiatan mendengar dongeng
dari gurunya, anak itu disuruh keluar dari kelompoknya, atau anak itu diminta
duduk di belakang kelas atau di pojok kelas, disuruh keluar kelas ke koridor,
ke kantor guru, seringkali dibiarkan tanpa pengawasan.
Kalau ada anak remaja
nakal, orangtua menyuruh pergi dari rumah. Padahal kalau mereka jauh dari orang
tuanya, orang tuanya jadi tidak bisa mengajari mereka dan mereka tidak belajar
nilai-nilai kebajikan. Kalau mereka tidak belajar, bagaimana nasib generasi
kita ke depan? Kalau kita menjauhkan remaja kita, maka mereka akan putus
hubungan dengan kita.
Ketika anak berbuat
salah, kita tidak bisa memotivasi anak untuk menjadi baik, kita hanya bisa
menciptakan kondisi agar mereka bisa melihat ke dalam diri mereka. Kita
seharusnya mengajari mereka untuk menyelesaikan masalah mereka, dan berusaha
mengembalikan mereka ke kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat.
Disarikan dari Buku It’s
All About WE; Rethinking Discipline using Restitution, Third Edition, Diane
Gossen, 2008
3 Sisi Segitiga
Restitusi

Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, 2001
telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam
melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama
segitiga restitusi/restitution triangle. Proses ini meliputi tiga tahap dan
setiap tahapnya berdasarkan pada prinsip penting dari Teori Kontrol, yaitu
Ketiga strategi tersebut direpresentasikan
dalam 3 sisi segitiga restitusi. Langkah-langkah itu tidak harus dilakukan satu
persatu. Banyak guru yang sudah menggunakannya dalam berbagai versi menurut
gaya mereka masing-masing bahkan tanpa mengetahui tentang teori restitusi.

Sisi 1. Menstabilkan Identitas/Stabilize the
identity
Bagian
dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas
anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses.
Anak yang sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan.
Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau
kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau
kita ingin ia menjadi proaktif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara
mengatakan kalimat-kalimat ini:
o Berbuat salah itu tidak apa-apa.
o Tidak ada manusia yang sempurna
o Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti
itu.
o Kita bisa menyelesaikan ini.
o Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang
salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
o Kamu berhak merasa begitu.
o Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik
buat dirimu sendiri?
Kalau
kita mengatakan kalimat-kalimat diatas, akan sangat sulit, bahkan hampir tidak
mungkin, buat anak untuk tetap membangkang. Para guru yang bertugas mengawasi
anak-anak saat mereka bermain di halaman sekolah, menyatakan bahwa bila mereka
mengatakan kalimat tersebut yang mungkin hanya butuh 30 detik, bisa mengubah
situasi yang sulit menjadi kooperatif.
Ketika
seseorang merasa sedih dan emosional, mereka tidak bisa mengakses bagian otak
yang berfungsi untuk berpikir rasional. Saat itulah ketika kita harus
menstabilkan identitas anak. Sebelum terjadi hal-hal lain yang bisa memperburuk
keadaan, kita sebaiknya membantu anak untuk tenang dan kembali ke suasana hati
dimana proses belajar dan penyelesaian masalah bisa dilakukan.
Tentu
akan sulit melakukan restitusi bila, anak yang berbuat salah terus berfokus
pada kesalahannya. Ada 3 alasan untuk ini, pertama rasa bersalah menguras
energi. Rasa bersalah membutuhkan energi yang sama dengan energi yang
dibutuhkan untuk mencari penyelesaian masalah. Kedua, ketika kita merasa
bersalah, kita mengalami identitas kegagalan. Dalam kondisi ini, orang akan
cenderung untuk menyalahkan orang lain atau mempertahankan diri, daripada
mencari solusi. Ketiga, perasaan bersalah membuat kita terperangkap pada masa
lalu dimana kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita hanya bisa
mengontrol apa yang akan terjadi di masa kini dan masa datang.
Sisi 2. Validasi Tindakan yang Salah/ Validate
the Misbeh...
Setiap
tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar.
Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita
akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Menurut
Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki
maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan
mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif
yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap
seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat
perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut.
Kalimat-kalimat dibawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila
dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.
o “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk
dari ini ya?”
o “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal
itu”
o “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena
kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”.
o “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi
kamu harus menambahkan sikap yang baru.”
Biasanya
guru menyuruh anak untuk menghentikan sikap yang tidak baik, tapi teori kontrol
menyatakan bahwa resep itu tidak manjur. Mungkin tindakan guru dengan
memvalidasi sikap yang tidak baik seperti bertentangan dengan aturan yang
ada.
Restitusi
tidak menyarankan guru bicara ke murid bahwa melanggar aturan adalah sikap yang
baik, tapi dalam restitusi guru harus memahami alasannya, dan paham bahwa
setiap orang pasti akan melakukan yang terbaik di waktu tertentu. Sebuah
pelanggaran aturan seringkali memenuhi kebutuhan anak akan kekuasaan/power
walaupun seringkali bertabrakan dengan kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan
akan cinta dan kasih sayang/love and belonging. Kalau kita tolak anak yang
sedang berbuat salah, dia akan tetap menjadi bagian dari masalah. namun bila
kita memahami alasannya melakukan sesuatu, maka dia akan merasa dipahami.
Para
guru yang telah menerapkan strategi ini mengatakan bahwa anak-anak yang tadinya
tidak terjangkau, menjadi lebih terbuka pada mereka. Strategi ini
menguntungkan bagi murid dan guru karena guru akan berada dalam posisi siswa,
dan karena itu akan memiliki perspektif yang berbeda.
Sisi 3: Menanyakan Keyakinan/Seek the Belief
Teori
kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika
identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah
divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan
nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan.
Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan
keyakinan kelas atau keluarga.
o Apa yang kita percaya sebagai kelas atau
keluarga?
o Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
o Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
o Kamu mau jadi orang yang seperti apa?
Penting
untuk menanyakan ke anak, kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan?
Apakah
kamu ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya?
Kebanyakkan
anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi
orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka
jd orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang
orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap
fokus pada gambaran tersebut.
Bacalah skrip di bawah
ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya:
Mario dan Adi merupakan
murid kelas 8 di SMP Tunas. Pada jam istirahat makan siang, saat semua
anak bermain di luar kelas, mereka diajak bicara oleh guru wali kelas mereka,
Bapak Joko, di ruang kelas.
Setelah tiga tahap itu
dilakukan, guru dapat menanyakan pada anak-anak, apa yang ingin mereka lakukan
untuk memperbaiki situasi saat itu. Disinilah restitusi dapat dilakukan.
Tugas Anda
- Dari 5 posisi kontrol, posisi mana yang dipraktikkan
oleh guru? Jelaskan.
Ø Dari kelima posisi kontrol tersebut, yang
dipraktekkan guru adalah posisi kontrol manajer, yang mana guru berbuat sesuatu
bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya,
mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau,
dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua
posisi tersebut bila diperlukan.
- Kebutuhan apa yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan Adi?
Ø Kebutuhan yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan
Adi adalah kebutuhan Kesenangan, kedua murid tersebut bermaksud untuk melakukan
sesuatu dengan tujuan bermain dan bersenang-senang tanpa bermaksud melukai
orang lain.
- Apa yang dikatakan guru dalam tahap Menstabilkan
Identitas, Validasi Tindakan, dan Mencari Keyakinan?
Ø Menstabilkan identitas dalam kejadian tersebut
adalah guru segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang
gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang sedang
mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba
untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan.-Validasi tindakan dalam
kasus tersebut adalah guru mamastikan bahwa apa yang telah diperbuat oleh Mario
dan Adi adalah sebagi contoh bahwa mereka hanya ingin mendapatkan tujuan
kebutuhan dasarnya yaitu mem[eroleh kesenangan, -Mencari keyakinan dalam kasus
tersebut adalah guru menggiring berpikir positif pada mereka berdua untuk
melakukan apa yang di butuhkan mereka tanpa harus melukai/ menyakiti orang
lain, dan mereka akhirnya menemulan jati diri dan rasa bertanggung jawab mereka
akan perbuatannya.
- Kira-kira sesuai prinsip restitusi, apa yang akan
dilakukan Mario dan Adi untuk memperbaiki kesalahan mereka pada Ibu Dina?
Ø Sesuai
dengan prinsip restitusi, Mario dan Adi akan memperbaiki kesalahannya
tersebut dengan meminta maf kepada ibu Dina dan untuk kedepannya mereka akan
tetap bisa memperoleh kebutuhannya untuk bersenang-senang tanpa harus merugikan
orang lain.
https://drive.google.com/drive/folders/1Nh_548kMzUV-9zcl4Mv0zzVwpFkSF7et?usp=sharing